Kultur Sekolah

Nama : Intan Kurniyawati

NIM : 11901001

Kelas : PAI 4A

Makul : Magang 1


 Kultur Sekolah


     Salah satu persoalan penting adalah bagaimana meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Masyarakat sekarang semakin sadar bahwa pendidikan adalah salah satu jembatan untuk meraih kehidupan masa depan yang lebih baik, pendidikan yang bermutu menjadi kebutuhan, tuntutan dan harapan seluruh lapisan masyarakat. Untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilakukan oleh pemerintah, seperti pendidikan dan pelatihan guru, pengadaan sarana dan prasarana, peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru dan lain sebagainya. Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. (Zamroni, 2013). Namun sebagian besar hanya menekankan pada aspek pertama, yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar dan sarana/prasarana.

        Budaya sekolah dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, staf aministrasi, dan siswa sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. Sekolah menjadi wadah utama dalam transmisi kultural antar generasi. Pengembangan kultur sekolah harus menjadi prioritas penting. Semua warga sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kultur sekolah untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu. Sekolah yang berhasil membangun dan memberikan kultur yang baik akan menghasilkan prestasi belajar yang tinggi baik akademik maunpun non akademik. Artinya, dalam memperbaiki mutu sekolah tanpa adanya kultur sekolah yang positif maka perbaikan itu tidak akan tercapai, sehingga kultur sekolah harus menjadi komitmen luas bagi warga dan menjadi kepribadian sekolah.


  • Pengertian Kultur Sekolah atau Budaya Sekolah    

        Kata budaya bersal dari bahasa Sansekerta yaitu Buddhayah yang berarti akal, pikiran atau budi. Sedangkan dalam bahasa latin, kata budaya bersal dari kata colere yang artinya mengolah. Jadi, kultur atau budaya adalah segala sesuatau yang berkaitan dengan akal atau budi manusia, yang mencakup  cara berfikir, perilaku sikap, nilai yang tercermin baik dalam bentuk fisik maupun sebaliknya. Jadi, kultur sekolah yaitu budaya sekolah yang menggambarkan pemikiran-pemikiran bersama, asumsi-asumsi, nilai-nilai, dan keyakinan yang dapat memberikan identitas sekolah yang menjadi standar perilaku yang diharapkan.

        Adapun menurut Zamroni ( 2011 ) bahwa budaya sekolah adalah merupakan suatu pola asumsi-asumsi dasar, nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan yang dipegang bersama oleh seluruh warga sekolah, yang diyakini dan telah terbukti dapat dipergunakan untuk menghadapi berbagai problem dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan melakukan integrasi internal, sehingga pola nilai dan asumsi tersebut dapat diajarkan kepada anggota dan generasi baru agar mereka memiliki pandangan yang tepat bagaimana seharusnya mereka memahami, berpikir, merasakan dan bertindak menghadapi berbagai situasi dan lingkungan yang ada ( Zamroni, 2011: 297 ).


  • Karakteristik Kultur Sekolah 

         lima karakteristik umum seperti yang diungkapkan oleh Steven dan Keyle (editor) (1985) sebagai berikut : Sekolah memiliki budaya sekolah yang kondusif, adanya harapan antara para guru bahwa semua siswa dapat sukses, menekankan pengajaran pada penguasaan ketrampilan, sistem tujuan pengajaran yang jelas bagi pelaksanaan monitoring dan penilaian keberhasilan kelas, prinsip-prinsip sekolah yang kuat sehingga dapat memelihara kedisiplinan siswa. Untuk penciptaan budaya sekolah dapat dilakukan melalui : Pemahaman tentang budaya sekolah, pembiasaan pelaksanaan budaya sekolah dan penghargaan dan hukuman.
        Dalam lingkup tatanan dan pola yang menjadi karakteristik sebuah sekolah, kebudayaan memiliki dimensi yang dapat di ukur yang menjadi ciri budaya sekolah seperti:
1. Tingkat tanggung jawab, kebebasan dan independensi warga atau personil sekolah, komite sekolah dan lainnya dalam berinisiatif.
2.    Sejauh mana para personil sekolah dianjurkan dalam bertindak progresif, inovatif dan berani mengambil resiko.
3.    Sejauh mana sekolah menciptakan dengan jelas visi, misi, tujuan, sasaran sekolah, dan upaya mewujudkannya.
4.   Sejauh mana unit-unit dalam sekolah didorong untuk bekerja dengan cara yang terkoordinasi.
5.  Tingkat sejauh mana kepala sekolah memberi informasi yang jelas, bantuan serta dukungan terhadap personil sekolah.
6.  Jumlah pengaturan dan pengawasan langsung yang digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan perilaku personil sekolah.
7. Sejauh mana para personil sekolah mengidentifkasi dirinya secara keseluruhan dengan sekolah ketimbang dengan kelompok kerja tertentu atau bidang keahlian profesional.
8. Sejauh mana alokasi imbalan diberikan didasarkan atas kriteria prestasi.
9. Sejauh mana personil sekolah didorong untuk mengemukakan konflik dan kritik secara terbuka.


  •    Unsur-unsur Kultur Sekolah

        Hedley Beare mendeskripsikan unsur-unsur kultur atau budaya sekolah dalam dua kategori, yaitu:

1. Unsur yang tidak kasat mata

       Unsur yang tidak kasat mata adalah filsafat atau pandangan dasar sekolah mengenai kenyataan yang luas, makna hidup atau yang di anggap penting dan harus diperjuangkan oleh sekolah. Dan itu harus dinyatakan secara konseptual dalam rumusan visi, misi, tujuan dan sasaran yang lebih kongkrit yang akan di capai oleh sekolah.

2. Unsur yang kasat mata dapat termenifestasi secara konseptual meliputi :

a. visi,misi, tujuan dan sasaran,
b. kurikulum,
c. bahasa komunikasi,
d. narasi sekolah, dan narasi tokoh-tokoh,
e. struktur organisasi,
f. ritual, dan upacara,
g. prosedur belajar mengajar,
h. peraturan sistem ganjaran/ hukuman,
i. layanan psikologi sosial,
j. pola interaksi sekolah dengan orang tua, masyarakat dan yang meteriil dapat berupa : fasilitas dan peralatan, artifiak dan tanda kenangan serta pakaian seragam.


  • Macam- Macam Kultur Sekolah 
1) Kultur sekolah positif meliputi kegiatan-kegiatan yang mendukung (pro) pada peningkatan kualitas pendidikan, terdiri dari: 
a) Ada ambisi untuk meraih prestasi, pemberian penghargaan pada yang berprestasi; 
b) Hidup semangat menegakan sportivitas, jujur, mengakui  keunggulan pihak lain; 
c) Saling menghargai; 
d) Trust (saling menghargai). 

2) Kultur sekolah negatif meliputi kegiatan-kegiatan yang tidak mendukung (kontra) pada peningkatan kualitas pendidikan, terdiri dari: 
a) Banyak jam kosong dan absen dari tugas; 
b) Terlalu permisif terhadap pelanggaran nilai-nilai moral; 
c) Adanya friksi yang mengarah pada perpecahan, terbentuknya kelompok yang saling menjatuhkan; 
d) Menekan pada nilai pelajaran bukan pada kemampuan. 

3) Kultur sekolah netral meliputi kegiatan yang kurang berpengaruh positif maupun negatif pada peningkatan kualitas pendidikan, terdiri dari: 
a) Seragam guru; 
b) Kegiatan arisan sekolah, jumlah fasilitas sekolah dan sebagainya.
  • Peran Kultur Sekolah
        Djemari (2003) membagi karekteristik peran kultur sekolah berdasarkan sifatnya dapat dibedakan menjadi tiga, yakni:

1. Bernilai Strategis
            Budaya yang dapat berimbas dalam kehidupan sekolah secara dinamis. Misalnya memberi peluang pada warga sekolah untuk bekerja secara efisien, disiplin dan tertib. Kultur sekolah merupakan milik kolektif bukan milik perorangan, sehingga sekolah dapat dikembangkan dan dilakukan oleh semua warga sekolah.

2.      2. Memiliki Daya Ungkit
            Budaya yang memliki daya gerak akan mendorong semua warga sekolah untuk berprestasi, sehingga kerja guru dan semangat belajar siswa akan tumbuh karena dipacu dan di dorong, dengan dukungan budaya yang memiliki daya ungkit yang tinggi. Misalnya kinerja sekolah dapat meningkat jika disertai dengan imbalan yang pantas, penghargaan yang cukup, dan proporsi tugas yang seimbang. Begitu juga dengan siswa akan meningkat semangat belajranya, bila mereka diberi penghargaan yang memadai, pelayanan yang prima, serta didukung dengan sarana yang memadai.

3.      3. Berpeluang Sukses
                Budaya yang berpeluang sukses adalah budaya yang memiliki daya ungkit dan memiliki daya gerak yang tinggi. Hal ini sangat penting untuk menumbuhkan rasa keberhasilan dan rasa mampu  untuk melaksanakan tugas dengan baik. Misalnya budaya gemar membaca. 

Sumber : 
https://media.neliti.com/media/publications/29297-ID-membangun-kultur-masyarakat-sekolah.pdf
http://sc.syekhnurjati.ac.id/esscamp/risetmhs/BAB21413141013.pdf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Media Pembelajaran

Kompetensi Guru Profesional